@Books.

Message Board > Visitors > Jumat, 25 Juli 2014 | 08:23 WIB
 

Informasi Pemesanan Buku


  1. byvan quai
    Pemesanan melalui SMS dan Telp ke nomor 082143555099
  2. Harga Rp.160.000,- (seratus enam puluh ribu rupiah)
  3. Pembeli buku di wilayah Surabaya, bisa langsung diantar ke rumah atau tempat kerja. Pembayarannya langsung lewat kurir yang membawa buku setelah buku diterima.
  4. Tanpa dikenakan biaya transpor. Untuk Pemesanan HUB : 082143555099
    Melalui setoran tunai lewat rekening BCA atau tranfer ke rekening bank BCA.
    ATAS NAMA : YOEYOENG ABDI
    BANK : BCA CABANG KLAMPIS SURABAYA
    NO.REKENING : 5200184116
  5. Biaya Pembelian Buku ditambah Biaya Pengiriman sesuai dengan Daftar TIKI. Konfirmasi lewat SMS ke 082143555099 setelah Pembayaran dan Pesanan langsung dikirim

Sex For Sale Potret Faktual Prostitusi 27 Kota di Indonesia


Prostitusi dalam Lanskap Fotografi

Judul Buku : Sex for Sale: Potret Faktual Prostitusi 27 Kota di Indonesia
Karya : Yuyung Abdi
Penerbit : JP Books, Surabaya
Cetakan : Agustus 2007
Tebal : xxiv + 224 halaman

PROSTITUSI memang susah diatasi. Tempat wisata birahi yang senantiasa menjadi jujugan pemuja kenikmatan dunia itu ternyata menyulam pelbagai kepentingan --ekonomi, sosial, dan budaya-- yang saling melengkapi. Karena itu, tak usah heran bila beragam upaya yang dilakukan dengan tujuan agar prostitusi itu lenyap tak ubahnya menggantang asap. Prostitusi pun bertiwikrama dalam berbagai rupa: panti pijat, salon kecantikan, ruko-ruko fiktif, warung remang-remang, dan sebagainya.

Para pekerja seks komersial (PSK), pelacur, perex, lonte, sundal, ciblek, cewek plat kuning, atau apa pun namanya segendang sepenarian. Walau berkali-kali dirazia, mereka tak jera-jera. Barangkali ambisi hedonistik dan tuntutan pemenuhan kebutuhan materilah yang kerap memanggil mereka kembali. Dus, jumlahnya terus membengkak. Ibarat mati satu tumbuh seribu, mereka terus membiak saban waktu. Byuh-byuh! Maka, ketika Moammar Emka merilis Jakarta Under Cover dua tahun silam, tak pelak kita terhenyak.

Emka memang sukses mengaduk-aduk kesadaran kita bahwa di sana, di Jakarta, ada fakta tentang kanal-kanal wisata birahi yang memiriskan hati. Ia memaksa kita menyusuri lorong-lorong gelap prostitusi di ibu kota melalui gorong-gorong kalimat yang berjubelan kata-kata. Tapi, terasa ada yang ganjil. Imajinasi dirampat rentengan kata-kata yang tak akur dan berselibat, hatta tak leluasa berkelebat. Imajinasi mesti dimerdekakan dari kuasa kata-kata. Inilah yang dipancangkan Yuyung Abdi dalam buku ini. Ia jauh melampaui apa yang dieksplorasi Emka. Alih-alih bermain dengan bahasa kata-kata, Yuyung justru berselancar dengan bahasa gambar (baca: foto).

Dalam perspektif semiotika Barthesian, foto merupakan replika realitas (signified) yang begitu mengesankan, penuh aura, dan kaya makna. Karena itu, foto merenda senyampang alasan yang membuat kita terpikat. Misalnya, memberi informasi (to inform), menunjukkan (to signify), melukiskan (to paint), mengejutkan (to surprise), dan membangkitkan gairah (to waken desire).

Kelima faktor tersebut akan kita jumpai dalam buku `album foto` ini. Yuyung mengabadikan realitas prostitusi yang menggeliat di 27 kota di Indonesia plus di Las Vegas dan Singapura. Untuk mengembarai kota sebanyak itu, arek Suroboyo yang ditabalkan Dahlan Iskan (Chairman Jawa Pos Group) sebagai tonggak fotografi model pertamanan Jawa Pos ini membutuhkan kurun tak kurang dari tiga tahun. Wajar memang, sebab untuk masuk dengan menenteng sebuah misi di kawasan prostitusi seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Yuyung kerap dibelit "birokrasi prostitusi" yang rumit, juga preman lokalisasi yang terus menguntit. Namun, dengan semangat alang-alang ia pantang patah arang. Berkat ketekunan dan kesabaran yang luar biasa, jepretan kameranya membuahkan hasil yang sungguh memesona.

Lihat saja, misalnya, foto seorang PSK bunting di kawasan lokalisasi Dolly Surabaya (hlm. xviii-xix). Demi mendapatkan foto yang elegan, Yuyung rela "merawat" PSK itu sekisar 4 bulan (5 Agustus-10 November 2006); sejak mitoni kandungan hingga melahirkan. Walhasil, ia menetaskan tiga foto yang sangat eksotis di mana kepedihan yang kelam terlihat begitu mencekam. Cermati pula foto dua PSK tunawicara di seputar Museum Mpu Tantular Surabaya (hlm. xxiii). Untuk pendekatan saja Yuyung menghabiskan tempo lebih dari 4 bulan. Ia mengidamkan foto dalam satu frame yang bisa bercerita tentang hidup dan perjuangan dua PSK tunawicara itu. Hingga terbersit ide reflektif menghadirkannya dalam genangan rinai hujan ketika mereka menjajakan diri di tepi jalan. Namun, hujan dan dua PSK tunawicara itu kerap berselisih jalan. Setelah sekitar satu bulan menanti, momentum yang ditunggu itu akhirnya datang menghampiri. Jadilah foto objek setengah badan dengan siluet bayangan utuh mengambang di atas genangan air hujan.

Fantastis! Foto yang sedemikian estetis seolah mewartakan takdir yang getir dan nasib yang berkubang dalam ketakberdayaan. Menyimak satu per satu foto dalam buku berukuran jangkung (21,5 x 28 cm) ini kita serasa menziarahi duka dan nestapa yang berdenyar perlahan namun amat menyentuh perasaan. Dengan menatap lekat-lekat, jarak psikologis antara kita dan objek foto tiba-tiba amat rapat. Seperti dituntun kekuatan gaib, kedirian kita seakan-akan moksa, lebur ke dalam lika-liku drama kehidupan prostitusi yang gemerlap tetapi begitu gelap.

Melalui buku ini Yuyung menunjukkan kelasnya sebagai fotografer profesional. Pergelutan dengan dunia fotografi sejak usia 14 tahun telah mengasah ketajaman naluri estetikanya, sehingga mampu menentukan angle pemotretan yang tidak sembarang fotografer sanggup melakukannya. Faktor inilah yang menjadikan foto-foto dalam buku ini tampak hidup dan menguarkan aura yang tak pernah redup. Tapi, sayang, penyajian foto kurang berimbang dan terkesan timpang. Selain mengabaikan pentingnya pengelompokan kronologis lokalisasi berdasarkan aspek geografis, Yuyung juga tak memedulikan standar kuantitas foto sebagai tolok ukur keterwakilan tiap-tiap kota.

Bingkai lokalisasi di Madiun dan Tulungagung, tamsil masing-masing cuma diwakili selembar foto, sementara di Surabaya ia menggelontorkan 65 foto. Analisis sosial tentang prostitusi di sejumlah kota juga acapkali dipaparkan dengan datar. Seperti di Sampit dan Banyuwangi, data-data seadanya saja digali dan masih jauh dari memadai. Hal ini tidak hanya cukup menyulitkan kita untuk mencerap informasi yang lengkap, tetapi juga mewariskan gundah gulana dan tanda tanya. Belum lagi penyajian bahasa yang kedap dengan kekacauan gramatika serta pembakuan istilah asing yang serampangan bisa mengganggu kenyamanan membaca.

Namun, sejumput kelemahan tersebut tidak sebanding dengan kontribusi buku ini. Dengan mencamtumkan peta zona penyebaran prostitusi dari Sabang sampai Merauke yang saling bersinergi, Yuyung berhasil menguak fakta bahwa prostitusi bukan semata-mata disulurkan oleh faktor dekadensi moral, tetapi lebih-lebih karena belenggu kemiskinan. Dan, yang unik, beberapa iklan komersial di buku ini di samping menunjukkan betapa berharganya kreativitas Yuyung, juga membuktikan kepatutan sebuah buku untuk diapresiasi. Jadi, sayang sekali bila buku ini diabaikan.

Sungguh! (*)
*) Saiful Amin Ghofur, Redaktur Jurnal Millah

Jogjakarta.

My Book Photo +



Testimonial +


Tasteful, thought provoking, and artistically beautiful images of women whose living depends upon their ability to meet sexual needs of strangers, these photos depict the hidden profession of prostitution that apparently flourishes throughout Indonesia.
As an American who has visited Indonesian many times in the past 12 years, yet who still speaks only limited Indonesian, I must struggle to communicate with Yuyung, who, in turn, struggles to communicate with me in English. But his photos carry a message that transcends language barriers. Through his photos, I see what he sees. And I think I know how he feels. He has touched me with these images. Surely, these images will also touch you.
Penuh cita rasa dan menggugah kita untuk berpikir. Buku ini berisi potret wanita yang kehidupannya bergantung pada kemahiran memenuhi hasrat seksual orang-orang yang tak mereka kenal, para pelanggan mereka. Buku ini menggambarkan dunia prostitusi, sebuah profesi yang pada kenyataannya tumbuh pesat di seluruh penjuru Indonesia.
Sebagai warga Amerika yang sering mengunjungi Indonesia dalam kurun 12 tahun terakhir, kemampuan berbahasa Indonesia saya masih terbatas. Sehingga masih sulit untuk berkomunikasi dengan Yuyung. Sebaliknya, Yuyung juga kesulitan berkomunikasi dengan saya dalam bahasa Inggris. Tapi, foto-fotonya membawa pesan yang menembus batas bahasa.
Melalui foto-fotonya, saya melihat apa yang dia lihat. Saya menjadi tahu apa yang dia rasakan. Dia telah menyentuh perasaan saya lewat foto-fotonya. Saya yakin, dia juga akan menyentuh perasaan Anda lewat foto-fotonya.
-- John R. Mohn
Adjunct Professor,
University of Evansville,
Evansville, Indiana. - USA
Yuyung yang saya lihat punya kemampuan fotografi jurnalistik jauh di atas rata-rata, jelas perlu mendapat acungan jempol yang lain. Redaktur foto harian Jawa Pos ini telah membuktikan bahwa kerja wartawan tidak semata menerima tugas dari atasan.
Yuyung dengan aktif telah membuat membuat indepth reporting atas inisiatif sendiri,sebuah tindakan yang sangat jarang dilakukan wartawan Indonesia. Semoga upaya Yuyung memacu kemajuan dunia jurnalistik Indonesia!
-- Arbain Rambey
(fotografer Harian Kompas)
"Saya merasa sangat bangga dan terkesan dengan karya saudara Yuyung Abdi yang telah kenyang dengan asam garam fotografi yang ia geluti". Apalagi yang disuguhkan kali ini adalah masalah sosial yang senyatanya, yaitu jagad pelacuran dalam bahasa visual.
-- H. Soenarjo
Wakil Gubernur Jawa Timur
Jurnal visual Yuyung adalah suatu telaah yang berlandasakan pada komitmen sosial, melanjutkan semangat para perintis jurnalistik investigasi macam Jacob Riis dan Lewis Hine yang mengungkap kemiskinan termasuk buruh bocah di kota New York pada 1912-an melalui lensa dan analisis jurnalistik mereka.
Suatu kerja keras yang menjadi pangkal perubahan fundamental UU perburuhan federal di AS.
-- Oscar Motuloh
Pewarta Foto Antara
Pewarta foto yang bekerja sebagai fotografer senior harian Jawa Pos ini tentu diyakini mahir pun memiliki ketajaman insting menggali sumber ceritanya.
Sudah pasti, teknik memotret dan gaya pengambilan gambar menjadi bukan teknik dan gaya yang lazim dilakukan sehari-hari
-- Kristupa W Saragih
Fotografer profesional
dan Pendiri Fotografer.net